Bagaimana Membuat Ekosistem Musik Yang Adil Serta Berkepanjangan?

Bagaimana Membuat Ekosistem Musik Yang Adil Serta Berkepanjangan?

Lebih dari setahun sudah berlalu semenjak Pertemuan Musik Indonesia (KAMI) pertama diselenggarakan di Ambon pada Maret 2018. Dari pertemuan itu lahir 12 point rumusan permasalahan di industri musik Tanah Air. Point itu jadi referensi untuk perbaikan ekosistem musik serta meliputi pada masalah pengarsipan serta tata atur, kesejahteraan musikus, pengarusutamaan pendidikan musik, kesetaraan gender di industri musik, dan sebagainya.

Walau sudah berlalu setahun, menurut Glenn Fredly sebagai musisi serta salah satunya pencetus KAMI, masih banyak hal yang butuh diperbaiki dari industri musik untuk membuat ekosistem yang sehat di dalamnya. “Bicara masalah ekosistem musik itu tidak lepas dari kompetisi global Jika mengulas masalah kompetisi global ingin tidak mau harus dikerjakan pembenahan supaya sustain,” kata Glenn didapati di M Bloc, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2019).

Karenanya pada akhirnya menggiring terdapatnya pertemuan musik pertama yang di Ambon, yang dibicarakannya komperhensif, yang pertama kebijaksanaan, privat serta pelakunya. Bahan pelajari dari pertemuan itu dapat jadi rujukan buat musik industri serta dapat men-support yang non industri, serta yang non industri itu banyak, ada yang adat, serta banyak,” jelas Glenn . Hampir seirama dengan Glenn Fredly, anggota Konsolidasi Seni yang pendiri Amita Asia Agency, Nadia Yustina mengutarakan harus terdapatnya aksi lanjut untuk melakukan perbaikan industri musik untuk wujudkan iklim yang inklusif serta adil untuk semua.

Baca juga : DWP 2019 Kembali Diadakan Di Jakarta

Buat Nadia, perbaikan itu dapat diawali dengan usaha pemerataan industri. Karena menurut dia, semua kegiatan musik masih begitu fokus di Ibu Kota serta belum begitu sentuh kota-kota yang lain yang sebetulnya mempunyai kekuatan. “Jika disebut apa industri musik telah adil? Itu belum juga. Sebab industri musik Indonesia masih berpusat di Jakarta. Kita belum punyai kantong-kantong industri musik di kota lain yang sehat serta berkepanjangan,” katanya.

Nadia meneruskan, “Harusnya banyak kota-kota yang dapat berdiri dengan sendiri membuat ekosistem industri musik mereka, contohnya Bandung atau Yogyakarta, jadi bagaimana triknya membuat ekosistem industri musik di kota lain tidak hanya di Jakarta.” Menurut Nadia, hal itu dapat direalisasikan dengan meningkatkan kantor cap rekaman serta publisis musik di kota-kota lain tidak hanya Jakarta, jadi misalnya. Untuk mengulas masalah itu, akan diselenggarakan Pertemuan Musik Indonesia (KAMI) ke-2 yang akan berjalan di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang, Kabupaten Bandung pada Sabtu, 23 November 2019. Acara itu terbuka untuk umum serta aksesnya bisa didapat dengan gratis dengan register terlebih dulu.

One thought on “Bagaimana Membuat Ekosistem Musik Yang Adil Serta Berkepanjangan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Menu